PKPNU DI BABUSSALAM

Pemerintah menegaskan bahwa, MUI, NU dan Muhammadiyah sepakat untuk membela bangsa. “NKRI harga mati. Kita tidak akan memberikan toleransi kepada siapa saja yang akan memecah belah bangsa ini,”. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan mutu kader-kader Nahdlatul Ulama (NU) di semua lini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama terus melaksanakan kaderisasi. Salah satunya PBNU menyelenggarakan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU), yang diinstruksikan dilaksanakan dibeberapa wilayah. Untuk di Jombang sendiri PKPNU di selenggarakan oleh PCNU Jombang pertama kali pada tanggal 05-09 Maret 2015, diikuti kurang lebih 60-an peserta dari pengurus PCNU, yang laksanakan di Pesantren Babussalam kalibening.

Untuk menyambung niat dari PBNU tersebut, PCNU. LP. Maarif Jombang dibawah komando H. M. Salmanudin Yazid, S.Ag. selaku penanggung jawab Pendidikan di Madrasah-Madrasah di Jombang mencangakan Desember 2016 – Februari 2017 akan melaksanakan PKPNU sampai dengan IV angkatan, yang semuanya diselenggarakan di Pondok Pesantren Babussalam Kalibening-Jombang.

Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) untuk angkatan I ini dilaksanakan pada mulai 23 – 25 Desember 2016, diikuti oleh 63 peserta perwakilan dari para Pengurus Anak Cabang Nahdlatul Ulama (PACNU), Kepala Madrasah dan dari beberapa steckholder yang ada dinaungan PCNU. LP. Maarif Jombang.

Pembukaan Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU) Angkatan I dibuka oleh Seksi Pendidikan Madrasah Jombang sekaligus PCNU dan Pembina PCNU. LP. Maarif Jombang KH. Drs. Taufiq Djalil, M. M, “PKPNU adalah pelatihan kader pertama NU yang sangat sistematik dan mantab yang bisa menumbuhkan kejiwaan dan emosional ke-NU-an yang lebih. Saya sendiri adalah alumni PKPNU PCNU ke-II, jadi saya bisa merasakan bahwa kita disini tidak hanya berlatih tapi yang lebih penting kita menjdai sadar kalau kita dibutuhkan oleh NU”. tandas beliau gus taufiq.

Sebelumnya pada pra PKPNU Ketua PCNU. LP. Maarif H. M. Salmanudin dan juga pengasuh pesantren Babussalam ini atau biasanya dipanggil Gus Salman, menuturkan “saya diwasiati oleh abah saya sekitar tahun 1999, saya dipanggil sama beliau dan berkata “gus, panjengan nek nang endia ae iku, sampek gepeng, pn elok i NU”.,, itu yang yang membuat saya mati-matian memperjuangkan NU sampai saat ini, dan semoga kita semua dapat barokah karna perjuangan kita, NU membutuhkan kita. tandas beliau Gus Salman.